Tuesday, 8 November 2022

Kontekstualisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 


Refleksi dan Kesimpulan Mengenai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara serta Penerapannya

Oleh: Rizki Rahayu

Saya seorang guru SMA, saya telah menjadi guru sejak tahun 2009. Dulu saya berpikir bahwa menjadi guru SD dan SMP lebih sulit dari pada guru SMA karena harus membentuk dasar-dasar pengetahuan dan karakter anak. Ternyata dalam kenyataannya menghadapi anak SMA juga tidak mudah. Banyak permasalahan yang saya hadapi.

Saya yakin bahwa pembelajaran di kelas akan berhasil dan menyenangkan bagi siswa jika menggunakan metode yang bervariasi, terutama banyak menggunakan metode permainan. Namun menerapkan metode yang bervariasi apalagi permainan merupakan suatu tantangan yang tinggi bagi saya karena menuntut kreativitas dan juga berbenturan dengan pemikiran bahwa tidak semua materi bisa menggunakan metode yang ‘wow’ tersebut. Menurut saya metode klasik yaitu ceramah tetap sangat diperlukan, apalagi menyangkut materi baru yang belum pernah siswa pelajari sebelumnya di SD dan SMP dan pada materi-materi yang dinilai sulit. Mungkin inilah cara pandang yang membuat saya tetap dalam ‘zona nyaman’.

Belum lagi dihadapkan pada masalah yang paling sulit saya tangani, yaitu dalam hal membentuk karakter siswa. Siswa SMA berada pada fase perubahan dari anak-anak menuju dewasa, fase mencari jati diri, lebih berpikiran kritis karena daya nalar semakin meningkat, sehingga terkadang memunculkan jiwa perlawanan ketika diberi perintah, masukan dan nasihat dalam rangka membentuk karakter mereka. Jika dikaitkan dengan dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu ‘kodrat alam’ masalah yang sering saya temui adalah karakter dari sebagian siswa yang sudah tidak sesuai lagi dengan konteks sosial-budaya lokal yang semestinya menjunjung tinggi sopan santun dan menghargai orang lain. Inilah misteri terbesar bagi saya yang menjadi ‘PR’ untuk ditemukan metode atau strategi apa yang tepat di dalam mengarahkan siswa agar mereka kembali pada jati diri bangsanya, agar pendidikan yang dijalankan tidak terasa sia-sia, agar dapat mewujudkan anak-anak yang memiliki budi pekerti luhur seperti yang menjadi dasar filosofi Ki Hadjar Dewantara.   

Berkaitan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut, dapat saya simpulkan sebagai berikut:

1.   pendidikan itu tuntunan, artinya menuntun kodrat anak bukan merubah kodrat anak, ibaratnya petani yang menanam jagung tidak bisa mengubah jagung menjadi kedelai, melainkan hanya bisa menyiram, memupuk dan merawat agar jagung itu tumbuh subur dan baik kualitasnya;

2.  bahwa kodrat anak adalah merdeka dan bermain, maka pendidikan harus memerdekakan manusia lahir dan batin;

3.  pendidikan harus berpihak pada anak, artinya kegiatan belajar haruslah menyesuaikan dengan gaya belajar setiap anak dan juga potensi yang mereka miliki;

4.   anak bukanlah ‘kertas kosong’, mereka telah ‘dibekali’ potensi/kemampuan sejak lahir, maka dari itu ibaratnya kertas yang sudah ada tulisannya namun samar tugas guru adalah menebalkan kodrat atau laku anak yang bernilai positif serta membuat laku yang negatif tetap samar sehingga tidak akan muncul;

5.  pendidikan sejatinya menumbuhkan budi pekerti yang luhur pada diri anak sehingga menciptakan kebijaksanaan, dengan demikian terwujudlah keselamatan dan kebahagiaan pada diri anak.

 

Setelah saya mempelajari Dasar-Dasar Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut saya menjadi semakin sadar bahwa masih banyak yang perlu ditingkatkan dari diri saya sebagai guru, bahkan sepertinya guru harus menjadi manusia ‘super’. Apa yang dipelajari memotivasi saya untuk menjadi lebih baik, namun di sisi lain ini menjadi sebuah beban yang mana saya merasa guru itu harusnya memiliki banyak kemampuan yang ‘agak jauh panggang dari api’ jika melihat karakter yang ada dalam diri saya, karena saya merasa memiliki kekurangan dari segi komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Tapi saya masih merasa optimis karena di dalam PGP ini pastinya akan memberikan ilmu dan pengalaman yang dapat membuat saya mendobrak kebiasaan lama.

Setidaknya sebagai permulaan saya akan berupaya konsisten untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi yang mengakomodir semua gaya belajar siswa, di situ saya akan menggunakan audio yang jelas, visualisasi yang menarik (dengan video, animasi dan gambar), kegiatan belajar yang melibatkan fisik dan perasaan, serta memanfaatkan bahan belajar yang ada di lingkungan sekitar. Karena saya mengampu mata pelajaran Geografi, maka kegiatannya akan seperti memutar audio video mengenai pembuatan peta dari citra satelit daerah setempat sebagai stimulus, namun sebelumnya memastikan agar siswa tertib dan tidak ribut dengan membuat kontrak belajar. Kemudian mengarahkan dan membimbing siswa untuk mempraktekkan cara membuat peta tersebut secara bertahap dan sabar, sehingga siswa paham akan bentuk dan keadaan wilayahnya sendiri.

 

Sumber: Simon Petrus Rafael (2022). Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Guru Penggerak

Dasar Pemikiran Ki Hadjar Dewantara


 

  KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA Oleh Rizki Rahayu, S.Pd. CGP Angkatan 7, SMAN 2 Mempa...