PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS
NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Analisis dan Refleksi Berdasarkan Hasil Wawancara
dengan Beberapa Kepala Sekolah
Oleh: Rizki Rahayu, S.Pd.
CGP Angkatan 7-SMA Negeri 2 Mempawah
Hilir
· Dilema Etika dan Paradigmanya, Prinsip dan Langkah Pengambilan Keputusan
Pengambilan
keputusan bagi seorang pemimpin sebuah institusi moral tentunya tidak mudah,
terutama jika dihadapkan pada suatu dilema etika, yaitu adanya dua kepentingan
yang sama-sama benar atau memiliki nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Oleh
karena itu seorang kepala sekolah dapat berpegang pada tiga dasar dalam
pengambilan keputusan, yaitu hendaknya keputusan yang akan dibuat berpihak pada
murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab
terhadap konsekuensi dari keputusan tersebut.
Ketika
berhadapan dengan dilema etika, ada empat paradigma yang muncul, yaitu paradigma
individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan
kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Misalnya kepala sekolah
dihadapkan pada situasi apakah ia akan mengikuti pelatihan kompetensi kepala
sekolah ke luar kota ataukah tetap di sekolah untuk mengatasi banyaknya
permasalahan murid dan guru di sekolah, berarti kepala sekolah tersebut tengah
menghadapi dilema individu lawan kelompok.
Dalam
pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin pembelajaran umumnya ada tiga
prinsip yang digunakan, yaitu berbasis hasil akhir (ends-based thingking), berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berbasis rasa peduli (care-based thingking). Seorang kepala
sekolah yang berpikir bahwa ia harus membuat keputusan yang dapat membahagiakan
orang banyak maka ia telah menggunakan prinsip berbasis hasil akhir. Seorang
kepala sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diyakininya maka ia
cenderung memutuskan berdasarkan peraturan. Sedangkan kepala sekolah yang
memiliki empati yang tinggi atau ia dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa
kepeduliannya maka ia akan memutuskan menggunakan prinsip berbasis rasa peduli.
Pada dasarnya
tidak ada prinsip yang paling benar bagi seorang kepala sekolah dalam mengambil
sebuah keputusan, namun sekali lagi yang perlu menjadi pertimbangan sebagai
pemimpin pembelajaran adalah bahwa keputusan tersebut hendaknya berpihak pada
murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab.
Selain itu juga hendaknya perlu dipertimbangkan efektivitas dari pengambilan
keputusan tersebut.
Idealnya
terdapat sembilan langkah atau tahapan yang dapat digunakan untuk pengambilan
dan pengujian keputusan:
1. Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam
situasi ini
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasi ini
4. Pengujian benar atau salah (uji
legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji publikasi, uji
panutan/idola)
5. Pengujian paradigma benar lawan benar
6. Melakukan prinsip resolusi (berbasis
hasil akhir, berbasis peraturan, berbasis rasa peduli)
7. Investigasi opsi trilema (mencari
opsi alternatif di luar dari dua pilihan yang sudah ada)
8. Buat keputusan
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan
· Hasil Wawancara
Berikut ini
hasil wawancara dengan tiga orang kepala sekolah mengenai pengambilan keputusan
yang telah mereka lakukan terkait dengan dilema etika dan bujukan moral. Untuk
dua orang kepala sekolah saya samarkan identitasnya dan tidak saya tampilkan
fotonya atas permintaan narasumber, sehingga disebutlah sebagai Kepala Sekolah
A dan B.
1. Kepala Sekolah A
Bapak Kepala Sekolah A belum terlalu lama bertugas di sekolahnya. Selama
ini beliau telah menghadapi beberapa kasus baik itu menyangkut siswa, pendidik
dan tenaga kependidikan. Dalam menghadapi kasus dilema etika beliau berupaya
untuk mencari tahu terlebih dahulu mengenai penyebab dari permasalahan yang
ada.
Pernah beliau menghadapi kasus seorang penjaga sekolah yang meninggalkan tugasnya
sebelum waktunya, karena melakukan pekerjaan serabutan di luar sekolah, akibat
dari tuntutan kebutuhan hidup sementara pendapatan tidak cukup untuk memenuhi
semua kebutuhan keluarga dan pendidikan anak. Dalam hal ini beliau menghadapi dilema
etika karena adanya benturan antara rasa keadilan dan rasa kasihan. Beliau dihadapkan
pada keputusan untuk melaporkan kepada dinas pendidikan dengan konsekuensi TPP
dicabut ataukah tetap membiarkan penjaga sekolah tersebut meninggalkan tugasnya
sebelum waktunya. Akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan pendekatan secara
hati ke hati, sehingga pada akhirnya penjaga sekolah tersebut menemukan sendiri
solusi dari permasalahnnya, yaitu akan tetap bekerja sesuai dengan jadwalnya,
dan di luar hari kerja akan melakukan pekerjaan tambahan di sekolah untuk
mendapatkan tambahan pendapatan.
Prosedur yang beliau jalankan dalam menyelesaikan permasalahan dan
mengambil keputusan adalah melalui tahapan berikut:
1) mengidentifikasi permasalahan;
2) mencari tahu latar belakang/penyebab permasalahan (mengumpulkan data);
3) mengadakan dialog secara kekeluargaan;
4) mengambil keputusan yang solusinya berasal dari pihak yang bermasalah
(pendekatan yang diambil mirip dengan strategi restitusi dan coaching).
Hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan
adalah jika menggunakan pendekatan kekeluargaan, dan tantangan yang dirasakan
adalah bagaimana membuat keputusan yang tepat sehingga dapat terjadi perubahan
yang lebih baik. Selama ini ketika menghadapi suatu permasalahan beliau
menyediakan waktu untuk menyelidiki terlebih dahulu permasalah tersebut dan
kemudian mengadakan pertemuan dengan pihak yang terkait. Hal yang membantu
beliau dalam pengambilan keputusan adalah jika ada kerjasama dari pihak yang
memiliki masalah dan juga adanya dukungan dari warga sekolah.
Beliau mendapatkan pelajaran bahwa dalam pengambilan keputusan perlu
mengetahui latar belakang dari sebuah permasalahan dan memecahkan masalah
dengan jalan kekeluargaan. Selain itu menurut beliau, keputusan yang tepat
dapat memberikan perubahan yang lebih baik.
2. Kepala Sekolah B
Kepala Sekolah B baru saja ditempatkan menjadi kepala sekolah di salah
satu SMP. Walaupun begitu beliau telah menghadapi beberapa kasus baik dilema etika
maupun bujukan moral, terkait dengan siswa dan juga pendidik. Walaupun begitu
beliau tidak banyak menghadapi kasus dilema etika dan lebih sering menghadapi
bujukan moral. Untuk kasus bujukan moral
tidak terlalu sulit bagi beliau untuk memutuskan, tetapi ketika dihadapkan pada
dua permasalahan yang sama-sama memiliki nilai kebenaran agak sulit bagi beliau
untuk serta merta membuat keputusan.
Dalam menghadapi kasus dilema etika, Bapak Kepala Sekolah B menjalankan
pengambilan keputusan melalui mekanisme musyawarah, dan kemudian setelah
mengambil keputusan beliau merefleksikan kembali apakah keputusan yang diambil
sudah tepat. Sebelum melakukan musyawarah terlebih dahulu beliau berupaya untuk
mengidentifikasi dan memahami permasalahan.
Kasus dilema etika yang pernah dihadapi oleh Kepala Sekolah B yaitu saat
beliau harus memutuskan apakah memberikan surat peringatan ataukah tetap
memberikan keringanan kepada beberapa guru yang sering tidak ikut upacara. Guru-guru
yang sering tidak ikut upacara ini adalah mereka yang jarak rumahnya sangat
jauh, sehingga ketika mereka harus hadir sebelum jam 7 saat upacara di sekolah,
mereka harus berangkat dari rumah pukul 3 pagi. Hal ini membuat kepala sekolah
merasa kasihan dan sulit mengambil keputusan. Akhirnya kepala sekolah membuat
keputusan alternatif, yaitu sehari sebelum upacara guru-guru yang rumahnya jauh
dapat menginap di lokasi yang dekat dengan sekolah, sehingga ketika upacara
mereka dapat datang tepat waktu.
Langkah-langkah yang biasanya beliau jalankan dalam pengambilan keputusan
adalah sebagai berikut:
1) mengidentifikasi masalah;
2) menentukan pihak-pihak yang terlibat;
2) mengumpulkan fakta/data;
3) memusyawarahkan permasalahan yang ada melalui rapat dewan guru;
4) membuat keputusan yang tepat tanpa ada pihak yang dirugikan;
5) merefleksikan kembali keputusan yang sudah dibuat.
Hal-hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan
adalah dengan melalui tahapan-tahapan tertentu seperti yang telah dikemukakan
di atas, dan juga menentukan keputusan haruslah berdasarkan aturan dan
mengutamakan kepentingan umum.
Tantangan yang selama ini beliau hadapi adalah jika menemukan kasus yang
mengandung nilai benar lawan benar, sehingga perlu benar-benar dipikirkan jangan
sampai ada pihak yang dirugikan.
Pada umumnya ketika menghadapi suatu kasus, beliau langsung menyelesaikan
saat itu juga kasus yang dinilai tidak terlalu berat, sedangkan untuk kasus
yang berat beliau meluangkan waktu untuk menyelesaikannya dengan melalui
tahapan/langkah seperti yang telah dikemukakan di atas. Beliau selama ini
dipermudah atau terbantu dalam pengambilan keputusan dari suatu masalah karena
melibatkan warga sekolah (guru, murid, komite sekolah), dan juga dari
pihak-pihak yang terkait dengan orang yang bermasalah.
Pembelajaran yang beliau dapatkan selama ini ketika mengambil sebuah
keputusan yaitu diperlukan sikap kehati-hatian, dan setelah mengetahui mengenai
konsep pengambilan dan pengujian keputusan ke depannya beliau akan menerapkan 9
langkah pengambilan keputusan agar dapat menghasilkan keputusan yang lebih
terarah dan bijaksana.
3. Bapak Musa Alamsyah, S.Pd.
Bapak Musa adalah kepala sekolah di tempat saya bekerja yaitu SMA Negeri
2 Mempawah Hilir, beliau baru beberapa bulan saja menjadi kepala sekolah di SMA
ini, namun sebelumnya telah malang melintang berpengalaman sebagai kepala
sekolah di beberapa sekolah di Kabupaten Mempawah.
Selama ini Pak Musa jarang menemui kasus dilema etika, yang sering beliau
hadapi adalah kasus bujukan moral dimana yang terjadi adalah benturan antara nilai
yang salah lawan nilai yang benar. Beliau dalam menjalankan pengambilan
keputusan berpegang pada aturan/tata tertib yang jelas, serta keputusan itu
harus bertanggung jawab dan tidak plin plan.
Ketika menghadapi kasus dilema etika, beliau tetap mendasarkan keputusan
pada aturan yang ada, namun tetap memberi opsi kesempatan kepada pihak yang
terlibat masalah untuk mengadakan perubahan dalam jangka waktu tertentu.
Pada umumnya ketika menghadapi permasalahan beliau langsung
menyelesaikannya melalui musyawarah/rapat, yang mana kegiatan rapat tersebut
harus tercatat sehingga ada bukti bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara
bersama-sama. Selama ini tantangan yang beliau hadapi dalam pengambilan
keputusan adalah ketika menghadapi ancaman dari pihak tertentu yang ingin
keinginannya dipenuhi padahal berada pada pihak yang salah.
Faktor-faktor yang selama ini membantu dan mendukung beliau dalam
pengambilan keputusan adalah adanya rekan kerja yang membantu, komite sekolah
sebagai pihak pendukung, dan juga aktivitas musyawarah yang memang selalu
diupayakan.
Pembelajaran yang selama ini beliau dapatkan dalam pengambilan keputusan
adalah bahwa membuat keputusan haruslah tegas dan berdasarkan pada aturan,
sehingga tidak menjadi cemoohan pihak-pihak di luar sekolah.
· Refleksi Hasil Wawancara
Setelah saya melakukan wawancara
dengan ketiga orang kepala sekolah tersebut, ada beberapa hal menarik yang saya
temui, yaitu bahwa walaupun mereka belum mendapatkan pengetahuan mengenai pendidikan
guru penggerak, salah seorang kepala sekolah sudah menjalankan strategi restitusi
dan coaching. Satu orang kepala sekolah lainnya pun telah menerapkan langkah
opsi trilema (memunculkan opsi alternatif yang kreatif) dalam pengambilan keputusan.
Dari ketiga orang kepala sekolah
tersebut saya menemukan adanya persamaan, yaitu dalam pengambilan keputusan
selalu berkolaborasi dengan rekan lainnya, dan melalui mekanisme musyawarah.
Perbedaan dari mereka dalam pengambilan keputusan yaitu Kepala Sekolah A menggunakan
prinsip berdasarkan rasa peduli, Pak Musa menggunakan prinsip berdasarkan
aturan, dan Kepala Sekolah B merasa terkadang menggunakan prinsip aturan dan
terkadang menggunakan prinsip berdasarkan rasa peduli. Hal yang menonjol saya
temukan pada prinsip pengambilan keputusan yang dijalankan oleh Pak Musa, bahwa
beliau memang terlihat tegas namun memang bertanggung jawab terhadap apa yang
telah diputuskan.
Dalam pengambilan keputusan
selanjutnya, Kepala Sekolah A akan selalu mempertimbangkan apakah keputusannya
sudah tepat dengan melihat adanya perubahan pada pihak yang bermasalah. Pak
Musa sebagai kepala sekolah akan tetap selalu menjunjung aturan dan rasa
tanggung jawab. Sedangkan Kepala Sekolah B kedepannya akan menerapkan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan, karena beliau juga baru saja mendapatkan
pengetahuan tersebut dan ingin menerapkannya.
Untuk diri saya sendiri, jika
dihadapkan pada dilema etika, sebagai CGP tentunya saya akan berupaya menggunakan
9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan, utamanya akan saya
terapkan terlebih dahulu pada masalah yang terjadi di lingkungan keluarga saya
dan murid saya sendiri, jika memang ada permasalahan yang terjadi.
Wawancara dengan Kepala SMA Negeri 2 Mempawah Hilir
REFERENSI: Nurcahyani, Andri & Diah Samsiati Rajasa. (2022). Pendidikan Guru Penggerak: Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.