Monday, 17 April 2023

 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Analisis dan Refleksi Berdasarkan Hasil Wawancara

dengan Beberapa Kepala Sekolah

 

Oleh: Rizki Rahayu, S.Pd.

CGP Angkatan 7-SMA Negeri 2 Mempawah Hilir

 

 

·      Dilema Etika dan Paradigmanya, Prinsip dan Langkah Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin sebuah institusi moral tentunya tidak mudah, terutama jika dihadapkan pada suatu dilema etika, yaitu adanya dua kepentingan yang sama-sama benar atau memiliki nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Oleh karena itu seorang kepala sekolah dapat berpegang pada tiga dasar dalam pengambilan keputusan, yaitu hendaknya keputusan yang akan dibuat berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari keputusan tersebut.

Ketika berhadapan dengan dilema etika, ada empat paradigma yang muncul, yaitu paradigma individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Misalnya kepala sekolah dihadapkan pada situasi apakah ia akan mengikuti pelatihan kompetensi kepala sekolah ke luar kota ataukah tetap di sekolah untuk mengatasi banyaknya permasalahan murid dan guru di sekolah, berarti kepala sekolah tersebut tengah menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Dalam pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin pembelajaran umumnya ada tiga prinsip yang digunakan, yaitu berbasis hasil akhir (ends-based thingking), berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berbasis rasa peduli (care-based thingking). Seorang kepala sekolah yang berpikir bahwa ia harus membuat keputusan yang dapat membahagiakan orang banyak maka ia telah menggunakan prinsip berbasis hasil akhir. Seorang kepala sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diyakininya maka ia cenderung memutuskan berdasarkan peraturan. Sedangkan kepala sekolah yang memiliki empati yang tinggi atau ia dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kepeduliannya maka ia akan memutuskan menggunakan prinsip berbasis rasa peduli.

Pada dasarnya tidak ada prinsip yang paling benar bagi seorang kepala sekolah dalam mengambil sebuah keputusan, namun sekali lagi yang perlu menjadi pertimbangan sebagai pemimpin pembelajaran adalah bahwa keputusan tersebut hendaknya berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab. Selain itu juga hendaknya perlu dipertimbangkan efektivitas dari pengambilan keputusan tersebut.

Idealnya terdapat sembilan langkah atau tahapan yang dapat digunakan untuk pengambilan dan pengujian keputusan:

1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.    Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)

5.    Pengujian paradigma benar lawan benar

6.    Melakukan prinsip resolusi (berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, berbasis rasa peduli)

7.    Investigasi opsi trilema (mencari opsi alternatif di luar dari dua pilihan yang sudah ada)

8.    Buat keputusan

9.    Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

·      Hasil Wawancara

Berikut ini hasil wawancara dengan tiga orang kepala sekolah mengenai pengambilan keputusan yang telah mereka lakukan terkait dengan dilema etika dan bujukan moral. Untuk dua orang kepala sekolah saya samarkan identitasnya dan tidak saya tampilkan fotonya atas permintaan narasumber, sehingga disebutlah sebagai Kepala Sekolah A dan B.

1.    Kepala Sekolah A

Bapak Kepala Sekolah A belum terlalu lama bertugas di sekolahnya. Selama ini beliau telah menghadapi beberapa kasus baik itu menyangkut siswa, pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam menghadapi kasus dilema etika beliau berupaya untuk mencari tahu terlebih dahulu mengenai penyebab dari permasalahan yang ada.

Pernah beliau menghadapi kasus seorang penjaga sekolah yang meninggalkan tugasnya sebelum waktunya, karena melakukan pekerjaan serabutan di luar sekolah, akibat dari tuntutan kebutuhan hidup sementara pendapatan tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga dan pendidikan anak. Dalam hal ini beliau menghadapi dilema etika karena adanya benturan antara rasa keadilan dan rasa kasihan. Beliau dihadapkan pada keputusan untuk melaporkan kepada dinas pendidikan dengan konsekuensi TPP dicabut ataukah tetap membiarkan penjaga sekolah tersebut meninggalkan tugasnya sebelum waktunya. Akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan pendekatan secara hati ke hati, sehingga pada akhirnya penjaga sekolah tersebut menemukan sendiri solusi dari permasalahnnya, yaitu akan tetap bekerja sesuai dengan jadwalnya, dan di luar hari kerja akan melakukan pekerjaan tambahan di sekolah untuk mendapatkan tambahan pendapatan.

Prosedur yang beliau jalankan dalam menyelesaikan permasalahan dan mengambil keputusan adalah melalui tahapan berikut:

1) mengidentifikasi permasalahan;

2) mencari tahu latar belakang/penyebab permasalahan (mengumpulkan data);

3) mengadakan dialog secara kekeluargaan;

4) mengambil keputusan yang solusinya berasal dari pihak yang bermasalah (pendekatan yang diambil mirip dengan strategi restitusi dan coaching).

 

Hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan adalah jika menggunakan pendekatan kekeluargaan, dan tantangan yang dirasakan adalah bagaimana membuat keputusan yang tepat sehingga dapat terjadi perubahan yang lebih baik. Selama ini ketika menghadapi suatu permasalahan beliau menyediakan waktu untuk menyelidiki terlebih dahulu permasalah tersebut dan kemudian mengadakan pertemuan dengan pihak yang terkait. Hal yang membantu beliau dalam pengambilan keputusan adalah jika ada kerjasama dari pihak yang memiliki masalah dan juga adanya dukungan dari warga sekolah.

Beliau mendapatkan pelajaran bahwa dalam pengambilan keputusan perlu mengetahui latar belakang dari sebuah permasalahan dan memecahkan masalah dengan jalan kekeluargaan. Selain itu menurut beliau, keputusan yang tepat dapat memberikan perubahan yang lebih baik.

 

2.    Kepala Sekolah B

Kepala Sekolah B baru saja ditempatkan menjadi kepala sekolah di salah satu SMP. Walaupun begitu beliau telah menghadapi beberapa kasus baik dilema etika maupun bujukan moral, terkait dengan siswa dan juga pendidik. Walaupun begitu beliau tidak banyak menghadapi kasus dilema etika dan lebih sering menghadapi bujukan moral.  Untuk kasus bujukan moral tidak terlalu sulit bagi beliau untuk memutuskan, tetapi ketika dihadapkan pada dua permasalahan yang sama-sama memiliki nilai kebenaran agak sulit bagi beliau untuk serta merta membuat keputusan.

Dalam menghadapi kasus dilema etika, Bapak Kepala Sekolah B menjalankan pengambilan keputusan melalui mekanisme musyawarah, dan kemudian setelah mengambil keputusan beliau merefleksikan kembali apakah keputusan yang diambil sudah tepat. Sebelum melakukan musyawarah terlebih dahulu beliau berupaya untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan.

Kasus dilema etika yang pernah dihadapi oleh Kepala Sekolah B yaitu saat beliau harus memutuskan apakah memberikan surat peringatan ataukah tetap memberikan keringanan kepada beberapa guru yang sering tidak ikut upacara. Guru-guru yang sering tidak ikut upacara ini adalah mereka yang jarak rumahnya sangat jauh, sehingga ketika mereka harus hadir sebelum jam 7 saat upacara di sekolah, mereka harus berangkat dari rumah pukul 3 pagi. Hal ini membuat kepala sekolah merasa kasihan dan sulit mengambil keputusan. Akhirnya kepala sekolah membuat keputusan alternatif, yaitu sehari sebelum upacara guru-guru yang rumahnya jauh dapat menginap di lokasi yang dekat dengan sekolah, sehingga ketika upacara mereka dapat datang tepat waktu.

Langkah-langkah yang biasanya beliau jalankan dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) mengidentifikasi masalah;

2) menentukan pihak-pihak yang terlibat;

2) mengumpulkan fakta/data;

3) memusyawarahkan permasalahan yang ada melalui rapat dewan guru;

4) membuat keputusan yang tepat tanpa ada pihak yang dirugikan;

5) merefleksikan kembali keputusan yang sudah dibuat.

 

Hal-hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan adalah dengan melalui tahapan-tahapan tertentu seperti yang telah dikemukakan di atas, dan juga menentukan keputusan haruslah berdasarkan aturan dan mengutamakan kepentingan umum.

Tantangan yang selama ini beliau hadapi adalah jika menemukan kasus yang mengandung nilai benar lawan benar, sehingga perlu benar-benar dipikirkan jangan sampai ada pihak yang dirugikan.

Pada umumnya ketika menghadapi suatu kasus, beliau langsung menyelesaikan saat itu juga kasus yang dinilai tidak terlalu berat, sedangkan untuk kasus yang berat beliau meluangkan waktu untuk menyelesaikannya dengan melalui tahapan/langkah seperti yang telah dikemukakan di atas. Beliau selama ini dipermudah atau terbantu dalam pengambilan keputusan dari suatu masalah karena melibatkan warga sekolah (guru, murid, komite sekolah), dan juga dari pihak-pihak yang terkait dengan orang yang bermasalah.

Pembelajaran yang beliau dapatkan selama ini ketika mengambil sebuah keputusan yaitu diperlukan sikap kehati-hatian, dan setelah mengetahui mengenai konsep pengambilan dan pengujian keputusan ke depannya beliau akan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan agar dapat menghasilkan keputusan yang lebih terarah dan bijaksana.  

 

3.    Bapak Musa Alamsyah, S.Pd.

Bapak Musa adalah kepala sekolah di tempat saya bekerja yaitu SMA Negeri 2 Mempawah Hilir, beliau baru beberapa bulan saja menjadi kepala sekolah di SMA ini, namun sebelumnya telah malang melintang berpengalaman sebagai kepala sekolah di beberapa sekolah di Kabupaten Mempawah.

Selama ini Pak Musa jarang menemui kasus dilema etika, yang sering beliau hadapi adalah kasus bujukan moral dimana yang terjadi adalah benturan antara nilai yang salah lawan nilai yang benar. Beliau dalam menjalankan pengambilan keputusan berpegang pada aturan/tata tertib yang jelas, serta keputusan itu harus bertanggung jawab dan tidak plin plan.

Ketika menghadapi kasus dilema etika, beliau tetap mendasarkan keputusan pada aturan yang ada, namun tetap memberi opsi kesempatan kepada pihak yang terlibat masalah untuk mengadakan perubahan dalam jangka waktu tertentu.

Pada umumnya ketika menghadapi permasalahan beliau langsung menyelesaikannya melalui musyawarah/rapat, yang mana kegiatan rapat tersebut harus tercatat sehingga ada bukti bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama. Selama ini tantangan yang beliau hadapi dalam pengambilan keputusan adalah ketika menghadapi ancaman dari pihak tertentu yang ingin keinginannya dipenuhi padahal berada pada pihak yang salah.

Faktor-faktor yang selama ini membantu dan mendukung beliau dalam pengambilan keputusan adalah adanya rekan kerja yang membantu, komite sekolah sebagai pihak pendukung, dan juga aktivitas musyawarah yang memang selalu diupayakan.

Pembelajaran yang selama ini beliau dapatkan dalam pengambilan keputusan adalah bahwa membuat keputusan haruslah tegas dan berdasarkan pada aturan, sehingga tidak menjadi cemoohan pihak-pihak di luar sekolah.

 

 

·      Refleksi Hasil Wawancara

Setelah saya melakukan wawancara dengan ketiga orang kepala sekolah tersebut, ada beberapa hal menarik yang saya temui, yaitu bahwa walaupun mereka belum mendapatkan pengetahuan mengenai pendidikan guru penggerak, salah seorang kepala sekolah sudah menjalankan strategi restitusi dan coaching. Satu orang kepala sekolah lainnya pun telah menerapkan langkah opsi trilema (memunculkan opsi alternatif yang kreatif) dalam pengambilan keputusan.

Dari ketiga orang kepala sekolah tersebut saya menemukan adanya persamaan, yaitu dalam pengambilan keputusan selalu berkolaborasi dengan rekan lainnya, dan melalui mekanisme musyawarah. Perbedaan dari mereka dalam pengambilan keputusan yaitu Kepala Sekolah A menggunakan prinsip berdasarkan rasa peduli, Pak Musa menggunakan prinsip berdasarkan aturan, dan Kepala Sekolah B merasa terkadang menggunakan prinsip aturan dan terkadang menggunakan prinsip berdasarkan rasa peduli. Hal yang menonjol saya temukan pada prinsip pengambilan keputusan yang dijalankan oleh Pak Musa, bahwa beliau memang terlihat tegas namun memang bertanggung jawab terhadap apa yang telah diputuskan.

Dalam pengambilan keputusan selanjutnya, Kepala Sekolah A akan selalu mempertimbangkan apakah keputusannya sudah tepat dengan melihat adanya perubahan pada pihak yang bermasalah. Pak Musa sebagai kepala sekolah akan tetap selalu menjunjung aturan dan rasa tanggung jawab. Sedangkan Kepala Sekolah B kedepannya akan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, karena beliau juga baru saja mendapatkan pengetahuan tersebut dan ingin menerapkannya.

Untuk diri saya sendiri, jika dihadapkan pada dilema etika, sebagai CGP tentunya saya akan berupaya menggunakan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan, utamanya akan saya terapkan terlebih dahulu pada masalah yang terjadi di lingkungan keluarga saya dan murid saya sendiri, jika memang ada permasalahan yang terjadi.


Wawancara dengan Kepala SMA Negeri 2 Mempawah Hilir


REFERENSI: Nurcahyani, Andri & Diah Samsiati Rajasa. (2022). Pendidikan Guru Penggerak: Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

 

No comments:

Post a Comment

  KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA Oleh Rizki Rahayu, S.Pd. CGP Angkatan 7, SMAN 2 Mempa...