Friday, 28 April 2023

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 3.1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN 

SEBAGAI PEMIMPIN

 

Oleh: Rizki Rahayu, S.Pd.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

SMAN 2 Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah

 

Seorang guru dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran tak jarang dihadapkan pada suatu situasi pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan pembelajaran ataupun berkaitan dengan keberlangsungan institusi satuan pendidikan tempatnya berada, yang pada akhirnya keputusan yang dibuat akan berpengaruh pada murid-muridnya dan mutu pendidikan di institusinya. Untuk mengambil suatu keputusan yang bijak dan dapat diterima oleh semua orang tidaklah mudah. Oleh karena itu hendaknya dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran utamanya harus mempertimbangkan apakah keputusan yang diambil berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab.

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sangatlah penting, karena seorang pemimpin pembelajaran akan dilihat dan menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya, sebagaimana filosofi Pratap Triloka dari Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang guru di depan memberi teladan (ing ngarso sung tulodo). Keputusan yang bertanggung jawab akan menjadi inspirasi dan model pengambilan keputusan bagi orang-orang di sekitarnya. Keputusan yang bijak dapat mendorong terciptanya perubahan ke arah yang lebih baik terutama bagi pihak-pihak yang terlibat dan terkait dengan keputusan tersebut, sehingga berlakulah ing madyo mangun karso, bahwa keberadaan seorang pemimpin di tengah-tengah komunitas sekolah dapat memberikan motivasi dan membangun karsa/kemauan. Melalui penerapan pendekatan sosial emosional dan coaching kepada pihak yang bermasalah dalam proses pengambilan keputusan, maka seorang pemimpin pembelajaran telah menjalankan tut wuri handayani, yaitu memberikan dorongan dan arahan kepada warga sekolah agar mereka dapat mengeksplorasi potensi yang ada pada diri mereka sendiri dan menemukan solusi atas permasalahan yang ada.  

Bagi seorang pemimpin pembelajaran penting sekali untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang menjadi keyakinan selama ini, karena hal tersebut akan mempengaruhi prinsipnya dalam pengambilan keputusan, apakah akan mendasarkan keputusannya demi kebahagiaan orang banyak, pada aturan yang berlaku, ataupun pada rasa kepedulian/empati terhadap orang lain. Namun memang tidak ada prinsip yang paling benar, yang penting bahwa keputusan yang diambil itu efektif dan tepat.

Oleh karena itu sebelum menetapkan sebuah keputusan perlu suatu langkah pengujian agar tepat dan mendasar. Untuk itu terkadang kita memerlukan bantuan orang lain, perlu berkolaborasi, dalam rangka melakukan pengujian tersebut, yaitu salah satunya melalui coaching. Dalam sesi coaching yang saya lakukan bersama pengajar praktik, ketika itu saya ingin mengetahui efektivitas dari strategi yang dipilih dalam kegiatan pembelajaran geografi, apakah sudah sesuai dan tepat dalam memenuhi kebutuhan belajar murid ataukah masih ada kekurangan. Maka saat itu pengajar praktik sebagai coach membantu saya mengeksplorasi dan berpikir kreatif untuk menemukan jawaban yang berasal dari pengetahuan dan pemahaman saya sendiri. Strategi yang dilakukan adalah pembelajaran berdiferensiasi yang terdiri atas: diferensiasi konten, yaitu mengobservasi perairan darat yang ada di lingkungan sekolah (parit, selokan, kolam, sumur); diferensiasi prosesnya melalui pembelajaran kelompok berpasangan dan murid dibebaskan untuk mengerjakan tugas di luar atau di dalam kelas; dan diferensiasi produk, yaitu murid dapat memilih melaporkan hasil observasinya dalam bentuk tulisan, slide power point, dan audio-visual. Ternyata setelah melalui proses coaching saya menemukan bahwa strategi pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan cukup efektif jika diukur dari sebagian besar kelompok murid sudah berpartisipasi aktif. Namun dalam menyajikan hasil observasi khususnya dari segi kontennya masih banyak kelompok yang belum dapat menguraikan dengan baik.

Berdasarkan hal tersebut saya menyadari bahwa agar pengambilan keputusan yang dibuat efektif dan berdampak bagi kemajuan belajar murid, perlu adanya pengelolaan diri yang baik dan kemampuan memahami orang lain dan lingkungan sekitar, dengan mengasah lebih baik lagi kemampuan sosial emosional yang terdiri atas kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab. Karena jika kompetensi sosial emosional tersebut sudah baik dalam diri saya maka dalam pengambilan keputusan yang dibuat pastilah mempertimbangkan kemaslahatan bagi banyak orang, terutama bagi murid-murid, tidak hanya membuat keputusan berdasarkan kepuasan diri sendiri. Khususnya jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika ketika terdapat dua kepentingan yang sama-sama memiliki nilai kebenaran, maka kematangan sosial emosional akan sangat membantu memahami situasi dengan baik. Misalnya saja jika ada kasus murid pintar yang bernama A yang ingin ikut study tour namun terancam tidak dapat ikut karena tidak membayar, namun selain A ada beberapa lagi murid yang tidak dapat ikut karena belum membayar. Pada hari pelaksanaan murid A tetap datang, dengan janji dari orang tuanya akan membayar dengan mencicil. Karena murid A adalah anak yang rajin, pintar, dan sangat ingin ikut kegiatan, maka guru merasa kasihan. Namun jika guru terlalu mengutamakan perasaan dan hanya berlandaskan rasa kasihan saja maka ada beberapa murid lainnya yang tidak mendapatkan keadilan. Oleh karena itu sebagai guru harus menyadari keputusan apa yang seharusnya dibuat dan bagaimana dampaknya bagi yang lain, maka memang diperlukan kematangan sosial emosional pada diri seorang guru dalam pengambilan keputusan.

Memang merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pengambilan keputusan jika dihadapkan pada kasus yang mengandung dilema etika, karena pertimbangan utama dari keputusan tersebut haruslah berpihak pada murid, berlandaskan nilai-nilai kebajikan, dan bertanggung jawab. Kadangkala jika ada pelanggaran yang dilakukan murid (yang sebenarnya bisa dipahami bahwa dibalik itu ada penyebab yang masuk akal) menjadi tidak dapat ditolerir karena keinginan untuk bersikap tegas dan tidak pandang bulu, sehingga keputusan yang dibuat dirasa kurang bijak. Misalnya ada seorang murid kelas XII bernama B yang sudah dinyatakan lulus di universitas pada jurusan seni yang diminatinya, namun saat ujian sekolah mata pelajaran matematika dia ketahuan mencontek, dengan alasan dia tidak mampu di pelajaran ini, dan akhirnya dia terancam tidak lulus ujian sekolah. Jika guru langsung memutuskan murid B tidak lulus dengan alasan keadilan maka harapannya untuk kuliah di universitas menjadi kandas, padahal pelanggarannya bukanlah pelanggaran berat yang menjurus pada tindak kriminal. Memang seorang guru harus menegakkan keadilan, namun jika berlandaskan pada prinsip rasa peduli, guru dapat menghadirkan solusi alternatif yang tetap menjunjung keadilan namun juga tidak menafikkan rasa kepedulian, yaitu murid B diharuskan mengulang ujiannya dengan menggunakan soal ujian susulan, dan jika setelah diberi kesempatan murid B masih mencontek maka ia harus menanggung konsekuensinya.  

Sebagai seorang guru saya menyadari bahwa dalam menentukan kegiatan pembelajaran tidak semata-mata berdasarkan keinginan atau ‘selera’ saya, namun juga harus mempertimbangkan kebutuhan dan potensi murid agar mereka dapat belajar sesuai dengan jati dirinya. Untuk itulah pada saat awal tahun ajaran baru saya berupaya mengumpulkan data-data mengenai pengetahuan awal dan gaya belajar murid, sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk merencanakan kegiatan pembelajaran. Ini karena apa yang kita putuskan saat ini sedikit banyak akan berpengaruh pada masa depan murid, yaitu berpengaruh pada pemahaman, karakter, dan pengambilan keputusan yang mereka lakukan di masa yang akan datang.

Hal yang dapat saya simpulkan setelah mempelajari modul ini adalah bahwa pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin adalah suatu tanggung jawab dan tantangan tersendiri, maka dari itu diperlukan kematangan sikap dan keterampilan dalam pengambilan keputusan, karena tiap keputusan yang diambil akan mempengaruhi iklim dan budaya sekolah yang akhirnya berpengaruh pada kualitas murid-murid di sekolah. Oleh karena itu seorang pemimpin pembelajaran dalam proses pengambilan keputusan haruslah bercermin kembali kepada filosofi dasar pendidikan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Seorang pemimpin pembelajaran harus benar-benar memahami nilai dan perannya, memahami visi dan misi sekolah serta nilai-nilai kebajikan yang terkandung di dalamnya, karena yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang utama adalah bahwa keputusan itu selain mesti berpihak pada murid juga harus berlandaskan nilai-nilai kebajikan. Untuk itu seorang pemimpin pembelajaran mesti menebalkan kemampuan sosial-emosionalnya dan kemampuan coaching-nya, sehingga dengan kesadaran penuh akan diri dan juga orang-orang di sekitarnya, ia dapat membantu orang-orang di sekitarnya dalam menyelesaikan masalah serta mampu membuat keputusan yang bijak.

Dalam modul ini saya baru menyadari bahwa permasalahan yang dihadapi oleh seorang pemimpin dalam menentukan sebuah keputusan bukan hanya mengenai hal yang benar melawan hal yang salah, namun juga ada situasi dimana terjadi benturan antara dua nilai yang sama-sama benar, yang disebut dilema etika. Ketika dihadapkan pada dilema etika maka seorang pemimpin pasti akan sulit untuk membuat keputusan dengan serta merta, melainkan perlu pertimbangan dan langkah-langkah yang tepat. Tetapi juga tidak berarti bahwa semua keputusan yang sulit merupakan dilema etika, karena ada juga permasalahan yang cukup menantang namun ternyata hanyalah ‘bujukan moral’ dimana ada benturan nilai yang benar lawan nilai yang salah, misalnya pada kasus berikut: “Seorang anak tidak naik kelas karena memang tidak memenuhi syarat kenaikan kelas yaitu alpa 20 hari, padahal sudah beberapa kali dipanggil dan diberi surat peringatan, setelah diselidiki ternyata alasan tidak hadir karena sang anak malas sekolah. Kemudian orang tuanya yang wartawan mengancam akan menjatuhkan nama baik sekolah dengan membuat pemberitaan di surat kabar”. Hal tersebut menjadi sulit bagi seorang pemimpin yang memiliki prinsip bahwa penting untuk menjaga anggapan orang lain agar selalu positif kepada kita, namun sebenarnya dalam hal ini tidak ada nilai yang dilanggar dari keputusan tidak menaikkan seorang anak karena sudah sesuai dengan aturan yang ada.

Ketika berhadapan dengan dilema etika, ada empat paradigma yang muncul, yaitu paradigma individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Misalnya seorang kepala sekolah dihadapkan pada situasi apakah ia akan mengikuti pelatihan kompetensi kepala sekolah ke luar kota ataukah tetap di sekolah untuk mengatasi banyaknya permasalahan murid dan guru di sekolah, berarti kepala sekolah tersebut tengah menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Dalam pengambilan keputusan umumnya ada tiga prinsip yang digunakan, yaitu berbasis hasil akhir (ends-based thingking), berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berbasis rasa peduli (care-based thingking). Seorang pemimpin yang berpikir bahwa ia harus membuat keputusan yang dapat membahagiakan orang banyak maka ia telah menggunakan prinsip berbasis hasil akhir. Seorang pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diyakininya maka ia cenderung memutuskan berdasarkan peraturan. Sedangkan pemimpin yang memiliki empati yang tinggi atau ia dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kepeduliannya maka ia akan memutuskan menggunakan prinsip berbasis rasa peduli. Pada dasarnya tidak ada prinsip yang paling benar bagi seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan, namun sekali lagi yang perlu menjadi pertimbangan sebagai pemimpin pembelajaran adalah bahwa keputusan tersebut hendaknya berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab. Selain itu juga hendaknya perlu dipertimbangkan efektivitas dari pengambilan keputusan tersebut.

Idealnya terdapat sembilan langkah atau tahapan yang dapat digunakan untuk pengambilan dan pengujian keputusan:

1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.   Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.   Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.   Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji 

    publikasi, uji panutan/idola)

5.   Pengujian paradigma benar lawan benar

6.   Melakukan prinsip resolusi (berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, berbasis rasa 

    peduli)

7.   Investigasi opsi trilema (mencari opsi alternatif di luar dari dua pilihan yang sudah ada)

8.   Buat keputusan

9.   Lihat lagi keputusan dan refleksikan.


Mempelajari mengenai konsep pengambilan keputusan ini membuat saya menjadi lebih sadar bahwa setiap waktu sebagai pemimpin pembelajaran saya dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan. Oleh karena itu saya perlu terus meningkatkan kompetensi sosial emosional dengan melatih diri, menebalkan intuisi, serta menerapkan langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar saya mampu menghasilkan keputusan yang efektif. Melalui modul ini saya diberikan pencerahan bahwa kita jangan hanya berpatokan pada dua pilihan dalam menentukan keputusan, melainkan kita dapat mengeksplorasi segala potensi yang ada agar dapat menghadirkan solusi alternatif yang kreatif dan dapat menguntungkan semua pihak.

Sebagai individu, mempelajari modul ini penting bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih optimis, karena selama ini saya termasuk orang yang mudah bingung dalam mengambil keputusan khususnya jika berkaitan dengan orang lain, dan di modul ini diajarkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pengambilan dan pengujian keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran saya mendapatkan pemahaman yang sangat penting dari modul ini bahwa apapun prinsip yang digunakan dan apapun keputusan yang diambil maka keputusan tersebut haruslah berpihak pada murid, berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab, dengan demikian peran sebagai pemimpin pembelajaran dapat dijalankan dengan baik.

 

 

REFERENSI:   Nurcahyani, Andri & Diah Samsiati Rajasa. (2022). Pendidikan Guru Penggerak: Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 

Monday, 17 April 2023

 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Analisis dan Refleksi Berdasarkan Hasil Wawancara

dengan Beberapa Kepala Sekolah

 

Oleh: Rizki Rahayu, S.Pd.

CGP Angkatan 7-SMA Negeri 2 Mempawah Hilir

 

 

·      Dilema Etika dan Paradigmanya, Prinsip dan Langkah Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin sebuah institusi moral tentunya tidak mudah, terutama jika dihadapkan pada suatu dilema etika, yaitu adanya dua kepentingan yang sama-sama benar atau memiliki nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Oleh karena itu seorang kepala sekolah dapat berpegang pada tiga dasar dalam pengambilan keputusan, yaitu hendaknya keputusan yang akan dibuat berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari keputusan tersebut.

Ketika berhadapan dengan dilema etika, ada empat paradigma yang muncul, yaitu paradigma individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Misalnya kepala sekolah dihadapkan pada situasi apakah ia akan mengikuti pelatihan kompetensi kepala sekolah ke luar kota ataukah tetap di sekolah untuk mengatasi banyaknya permasalahan murid dan guru di sekolah, berarti kepala sekolah tersebut tengah menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Dalam pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin pembelajaran umumnya ada tiga prinsip yang digunakan, yaitu berbasis hasil akhir (ends-based thingking), berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berbasis rasa peduli (care-based thingking). Seorang kepala sekolah yang berpikir bahwa ia harus membuat keputusan yang dapat membahagiakan orang banyak maka ia telah menggunakan prinsip berbasis hasil akhir. Seorang kepala sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diyakininya maka ia cenderung memutuskan berdasarkan peraturan. Sedangkan kepala sekolah yang memiliki empati yang tinggi atau ia dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kepeduliannya maka ia akan memutuskan menggunakan prinsip berbasis rasa peduli.

Pada dasarnya tidak ada prinsip yang paling benar bagi seorang kepala sekolah dalam mengambil sebuah keputusan, namun sekali lagi yang perlu menjadi pertimbangan sebagai pemimpin pembelajaran adalah bahwa keputusan tersebut hendaknya berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab. Selain itu juga hendaknya perlu dipertimbangkan efektivitas dari pengambilan keputusan tersebut.

Idealnya terdapat sembilan langkah atau tahapan yang dapat digunakan untuk pengambilan dan pengujian keputusan:

1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.    Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)

5.    Pengujian paradigma benar lawan benar

6.    Melakukan prinsip resolusi (berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, berbasis rasa peduli)

7.    Investigasi opsi trilema (mencari opsi alternatif di luar dari dua pilihan yang sudah ada)

8.    Buat keputusan

9.    Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

·      Hasil Wawancara

Berikut ini hasil wawancara dengan tiga orang kepala sekolah mengenai pengambilan keputusan yang telah mereka lakukan terkait dengan dilema etika dan bujukan moral. Untuk dua orang kepala sekolah saya samarkan identitasnya dan tidak saya tampilkan fotonya atas permintaan narasumber, sehingga disebutlah sebagai Kepala Sekolah A dan B.

1.    Kepala Sekolah A

Bapak Kepala Sekolah A belum terlalu lama bertugas di sekolahnya. Selama ini beliau telah menghadapi beberapa kasus baik itu menyangkut siswa, pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam menghadapi kasus dilema etika beliau berupaya untuk mencari tahu terlebih dahulu mengenai penyebab dari permasalahan yang ada.

Pernah beliau menghadapi kasus seorang penjaga sekolah yang meninggalkan tugasnya sebelum waktunya, karena melakukan pekerjaan serabutan di luar sekolah, akibat dari tuntutan kebutuhan hidup sementara pendapatan tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga dan pendidikan anak. Dalam hal ini beliau menghadapi dilema etika karena adanya benturan antara rasa keadilan dan rasa kasihan. Beliau dihadapkan pada keputusan untuk melaporkan kepada dinas pendidikan dengan konsekuensi TPP dicabut ataukah tetap membiarkan penjaga sekolah tersebut meninggalkan tugasnya sebelum waktunya. Akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan pendekatan secara hati ke hati, sehingga pada akhirnya penjaga sekolah tersebut menemukan sendiri solusi dari permasalahnnya, yaitu akan tetap bekerja sesuai dengan jadwalnya, dan di luar hari kerja akan melakukan pekerjaan tambahan di sekolah untuk mendapatkan tambahan pendapatan.

Prosedur yang beliau jalankan dalam menyelesaikan permasalahan dan mengambil keputusan adalah melalui tahapan berikut:

1) mengidentifikasi permasalahan;

2) mencari tahu latar belakang/penyebab permasalahan (mengumpulkan data);

3) mengadakan dialog secara kekeluargaan;

4) mengambil keputusan yang solusinya berasal dari pihak yang bermasalah (pendekatan yang diambil mirip dengan strategi restitusi dan coaching).

 

Hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan adalah jika menggunakan pendekatan kekeluargaan, dan tantangan yang dirasakan adalah bagaimana membuat keputusan yang tepat sehingga dapat terjadi perubahan yang lebih baik. Selama ini ketika menghadapi suatu permasalahan beliau menyediakan waktu untuk menyelidiki terlebih dahulu permasalah tersebut dan kemudian mengadakan pertemuan dengan pihak yang terkait. Hal yang membantu beliau dalam pengambilan keputusan adalah jika ada kerjasama dari pihak yang memiliki masalah dan juga adanya dukungan dari warga sekolah.

Beliau mendapatkan pelajaran bahwa dalam pengambilan keputusan perlu mengetahui latar belakang dari sebuah permasalahan dan memecahkan masalah dengan jalan kekeluargaan. Selain itu menurut beliau, keputusan yang tepat dapat memberikan perubahan yang lebih baik.

 

2.    Kepala Sekolah B

Kepala Sekolah B baru saja ditempatkan menjadi kepala sekolah di salah satu SMP. Walaupun begitu beliau telah menghadapi beberapa kasus baik dilema etika maupun bujukan moral, terkait dengan siswa dan juga pendidik. Walaupun begitu beliau tidak banyak menghadapi kasus dilema etika dan lebih sering menghadapi bujukan moral.  Untuk kasus bujukan moral tidak terlalu sulit bagi beliau untuk memutuskan, tetapi ketika dihadapkan pada dua permasalahan yang sama-sama memiliki nilai kebenaran agak sulit bagi beliau untuk serta merta membuat keputusan.

Dalam menghadapi kasus dilema etika, Bapak Kepala Sekolah B menjalankan pengambilan keputusan melalui mekanisme musyawarah, dan kemudian setelah mengambil keputusan beliau merefleksikan kembali apakah keputusan yang diambil sudah tepat. Sebelum melakukan musyawarah terlebih dahulu beliau berupaya untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan.

Kasus dilema etika yang pernah dihadapi oleh Kepala Sekolah B yaitu saat beliau harus memutuskan apakah memberikan surat peringatan ataukah tetap memberikan keringanan kepada beberapa guru yang sering tidak ikut upacara. Guru-guru yang sering tidak ikut upacara ini adalah mereka yang jarak rumahnya sangat jauh, sehingga ketika mereka harus hadir sebelum jam 7 saat upacara di sekolah, mereka harus berangkat dari rumah pukul 3 pagi. Hal ini membuat kepala sekolah merasa kasihan dan sulit mengambil keputusan. Akhirnya kepala sekolah membuat keputusan alternatif, yaitu sehari sebelum upacara guru-guru yang rumahnya jauh dapat menginap di lokasi yang dekat dengan sekolah, sehingga ketika upacara mereka dapat datang tepat waktu.

Langkah-langkah yang biasanya beliau jalankan dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) mengidentifikasi masalah;

2) menentukan pihak-pihak yang terlibat;

2) mengumpulkan fakta/data;

3) memusyawarahkan permasalahan yang ada melalui rapat dewan guru;

4) membuat keputusan yang tepat tanpa ada pihak yang dirugikan;

5) merefleksikan kembali keputusan yang sudah dibuat.

 

Hal-hal yang selama ini beliau anggap efektif dalam pengambilan keputusan adalah dengan melalui tahapan-tahapan tertentu seperti yang telah dikemukakan di atas, dan juga menentukan keputusan haruslah berdasarkan aturan dan mengutamakan kepentingan umum.

Tantangan yang selama ini beliau hadapi adalah jika menemukan kasus yang mengandung nilai benar lawan benar, sehingga perlu benar-benar dipikirkan jangan sampai ada pihak yang dirugikan.

Pada umumnya ketika menghadapi suatu kasus, beliau langsung menyelesaikan saat itu juga kasus yang dinilai tidak terlalu berat, sedangkan untuk kasus yang berat beliau meluangkan waktu untuk menyelesaikannya dengan melalui tahapan/langkah seperti yang telah dikemukakan di atas. Beliau selama ini dipermudah atau terbantu dalam pengambilan keputusan dari suatu masalah karena melibatkan warga sekolah (guru, murid, komite sekolah), dan juga dari pihak-pihak yang terkait dengan orang yang bermasalah.

Pembelajaran yang beliau dapatkan selama ini ketika mengambil sebuah keputusan yaitu diperlukan sikap kehati-hatian, dan setelah mengetahui mengenai konsep pengambilan dan pengujian keputusan ke depannya beliau akan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan agar dapat menghasilkan keputusan yang lebih terarah dan bijaksana.  

 

3.    Bapak Musa Alamsyah, S.Pd.

Bapak Musa adalah kepala sekolah di tempat saya bekerja yaitu SMA Negeri 2 Mempawah Hilir, beliau baru beberapa bulan saja menjadi kepala sekolah di SMA ini, namun sebelumnya telah malang melintang berpengalaman sebagai kepala sekolah di beberapa sekolah di Kabupaten Mempawah.

Selama ini Pak Musa jarang menemui kasus dilema etika, yang sering beliau hadapi adalah kasus bujukan moral dimana yang terjadi adalah benturan antara nilai yang salah lawan nilai yang benar. Beliau dalam menjalankan pengambilan keputusan berpegang pada aturan/tata tertib yang jelas, serta keputusan itu harus bertanggung jawab dan tidak plin plan.

Ketika menghadapi kasus dilema etika, beliau tetap mendasarkan keputusan pada aturan yang ada, namun tetap memberi opsi kesempatan kepada pihak yang terlibat masalah untuk mengadakan perubahan dalam jangka waktu tertentu.

Pada umumnya ketika menghadapi permasalahan beliau langsung menyelesaikannya melalui musyawarah/rapat, yang mana kegiatan rapat tersebut harus tercatat sehingga ada bukti bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama. Selama ini tantangan yang beliau hadapi dalam pengambilan keputusan adalah ketika menghadapi ancaman dari pihak tertentu yang ingin keinginannya dipenuhi padahal berada pada pihak yang salah.

Faktor-faktor yang selama ini membantu dan mendukung beliau dalam pengambilan keputusan adalah adanya rekan kerja yang membantu, komite sekolah sebagai pihak pendukung, dan juga aktivitas musyawarah yang memang selalu diupayakan.

Pembelajaran yang selama ini beliau dapatkan dalam pengambilan keputusan adalah bahwa membuat keputusan haruslah tegas dan berdasarkan pada aturan, sehingga tidak menjadi cemoohan pihak-pihak di luar sekolah.

 

 

·      Refleksi Hasil Wawancara

Setelah saya melakukan wawancara dengan ketiga orang kepala sekolah tersebut, ada beberapa hal menarik yang saya temui, yaitu bahwa walaupun mereka belum mendapatkan pengetahuan mengenai pendidikan guru penggerak, salah seorang kepala sekolah sudah menjalankan strategi restitusi dan coaching. Satu orang kepala sekolah lainnya pun telah menerapkan langkah opsi trilema (memunculkan opsi alternatif yang kreatif) dalam pengambilan keputusan.

Dari ketiga orang kepala sekolah tersebut saya menemukan adanya persamaan, yaitu dalam pengambilan keputusan selalu berkolaborasi dengan rekan lainnya, dan melalui mekanisme musyawarah. Perbedaan dari mereka dalam pengambilan keputusan yaitu Kepala Sekolah A menggunakan prinsip berdasarkan rasa peduli, Pak Musa menggunakan prinsip berdasarkan aturan, dan Kepala Sekolah B merasa terkadang menggunakan prinsip aturan dan terkadang menggunakan prinsip berdasarkan rasa peduli. Hal yang menonjol saya temukan pada prinsip pengambilan keputusan yang dijalankan oleh Pak Musa, bahwa beliau memang terlihat tegas namun memang bertanggung jawab terhadap apa yang telah diputuskan.

Dalam pengambilan keputusan selanjutnya, Kepala Sekolah A akan selalu mempertimbangkan apakah keputusannya sudah tepat dengan melihat adanya perubahan pada pihak yang bermasalah. Pak Musa sebagai kepala sekolah akan tetap selalu menjunjung aturan dan rasa tanggung jawab. Sedangkan Kepala Sekolah B kedepannya akan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, karena beliau juga baru saja mendapatkan pengetahuan tersebut dan ingin menerapkannya.

Untuk diri saya sendiri, jika dihadapkan pada dilema etika, sebagai CGP tentunya saya akan berupaya menggunakan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan, utamanya akan saya terapkan terlebih dahulu pada masalah yang terjadi di lingkungan keluarga saya dan murid saya sendiri, jika memang ada permasalahan yang terjadi.


Wawancara dengan Kepala SMA Negeri 2 Mempawah Hilir


REFERENSI: Nurcahyani, Andri & Diah Samsiati Rajasa. (2022). Pendidikan Guru Penggerak: Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

 

  KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA Oleh Rizki Rahayu, S.Pd. CGP Angkatan 7, SMAN 2 Mempa...