KONEKSI ANTAR MATERI
MODUL 3.1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN
SEBAGAI PEMIMPIN
Oleh: Rizki Rahayu, S.Pd.
Calon Guru Penggerak Angkatan 7
SMAN 2
Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah
Seorang guru dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran tak
jarang dihadapkan pada suatu situasi pengambilan keputusan yang terkait dengan
kegiatan pembelajaran ataupun berkaitan dengan keberlangsungan institusi satuan
pendidikan tempatnya berada, yang pada akhirnya keputusan yang dibuat akan
berpengaruh pada murid-muridnya dan mutu pendidikan di institusinya. Untuk mengambil
suatu keputusan yang bijak dan dapat diterima oleh semua orang tidaklah mudah. Oleh
karena itu hendaknya dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran utamanya
harus mempertimbangkan apakah keputusan yang diambil berpihak pada murid, berdasarkan
nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab.
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sangatlah
penting, karena seorang pemimpin pembelajaran akan dilihat dan menjadi contoh
bagi orang-orang di sekitarnya, sebagaimana filosofi Pratap Triloka dari Ki
Hadjar Dewantara bahwa seorang guru di depan memberi teladan (ing ngarso sung tulodo). Keputusan yang bertanggung
jawab akan menjadi inspirasi dan model pengambilan keputusan bagi orang-orang
di sekitarnya. Keputusan yang bijak dapat mendorong terciptanya perubahan ke
arah yang lebih baik terutama bagi pihak-pihak yang terlibat dan terkait dengan
keputusan tersebut, sehingga berlakulah ing
madyo mangun karso, bahwa keberadaan seorang pemimpin di tengah-tengah
komunitas sekolah dapat memberikan motivasi dan membangun karsa/kemauan.
Melalui penerapan pendekatan sosial emosional dan coaching kepada pihak yang
bermasalah dalam proses pengambilan keputusan, maka seorang pemimpin pembelajaran
telah menjalankan tut wuri handayani,
yaitu memberikan dorongan dan arahan kepada warga sekolah agar mereka dapat
mengeksplorasi potensi yang ada pada diri mereka sendiri dan menemukan solusi atas
permasalahan yang ada.
Bagi seorang pemimpin pembelajaran penting sekali untuk merenungkan
kembali nilai-nilai yang menjadi keyakinan selama ini, karena hal tersebut akan
mempengaruhi prinsipnya dalam pengambilan keputusan, apakah akan mendasarkan
keputusannya demi kebahagiaan orang banyak, pada aturan yang berlaku, ataupun
pada rasa kepedulian/empati terhadap orang lain. Namun memang tidak ada prinsip
yang paling benar, yang penting bahwa keputusan yang diambil itu efektif dan tepat.
Oleh karena itu sebelum menetapkan sebuah keputusan perlu suatu langkah pengujian agar tepat dan mendasar. Untuk itu terkadang kita memerlukan bantuan orang lain, perlu berkolaborasi, dalam rangka melakukan pengujian tersebut, yaitu salah satunya melalui coaching. Dalam sesi coaching yang saya lakukan bersama pengajar praktik, ketika itu saya ingin mengetahui efektivitas dari strategi yang dipilih dalam kegiatan pembelajaran geografi, apakah sudah sesuai dan tepat dalam memenuhi kebutuhan belajar murid ataukah masih ada kekurangan. Maka saat itu pengajar praktik sebagai coach membantu saya mengeksplorasi dan berpikir kreatif untuk menemukan jawaban yang berasal dari pengetahuan dan pemahaman saya sendiri. Strategi yang dilakukan adalah pembelajaran berdiferensiasi yang terdiri atas: diferensiasi konten, yaitu mengobservasi perairan darat yang ada di lingkungan sekolah (parit, selokan, kolam, sumur); diferensiasi prosesnya melalui pembelajaran kelompok berpasangan dan murid dibebaskan untuk mengerjakan tugas di luar atau di dalam kelas; dan diferensiasi produk, yaitu murid dapat memilih melaporkan hasil observasinya dalam bentuk tulisan, slide power point, dan audio-visual. Ternyata setelah melalui proses coaching saya menemukan bahwa strategi pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan cukup efektif jika diukur dari sebagian besar kelompok murid sudah berpartisipasi aktif. Namun dalam menyajikan hasil observasi khususnya dari segi kontennya masih banyak kelompok yang belum dapat menguraikan dengan baik.
Berdasarkan hal tersebut saya menyadari bahwa agar pengambilan keputusan yang dibuat efektif dan berdampak bagi kemajuan belajar murid, perlu adanya pengelolaan diri yang baik dan kemampuan memahami orang lain dan lingkungan sekitar, dengan mengasah lebih baik lagi kemampuan sosial emosional yang terdiri atas kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab. Karena jika kompetensi sosial emosional tersebut sudah baik dalam diri saya maka dalam pengambilan keputusan yang dibuat pastilah mempertimbangkan kemaslahatan bagi banyak orang, terutama bagi murid-murid, tidak hanya membuat keputusan berdasarkan kepuasan diri sendiri. Khususnya jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika ketika terdapat dua kepentingan yang sama-sama memiliki nilai kebenaran, maka kematangan sosial emosional akan sangat membantu memahami situasi dengan baik. Misalnya saja jika ada kasus murid pintar yang bernama A yang ingin ikut study tour namun terancam tidak dapat ikut karena tidak membayar, namun selain A ada beberapa lagi murid yang tidak dapat ikut karena belum membayar. Pada hari pelaksanaan murid A tetap datang, dengan janji dari orang tuanya akan membayar dengan mencicil. Karena murid A adalah anak yang rajin, pintar, dan sangat ingin ikut kegiatan, maka guru merasa kasihan. Namun jika guru terlalu mengutamakan perasaan dan hanya berlandaskan rasa kasihan saja maka ada beberapa murid lainnya yang tidak mendapatkan keadilan. Oleh karena itu sebagai guru harus menyadari keputusan apa yang seharusnya dibuat dan bagaimana dampaknya bagi yang lain, maka memang diperlukan kematangan sosial emosional pada diri seorang guru dalam pengambilan keputusan.
Memang merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pengambilan keputusan jika dihadapkan pada kasus yang mengandung dilema etika, karena pertimbangan utama dari keputusan tersebut haruslah berpihak pada murid, berlandaskan nilai-nilai kebajikan, dan bertanggung jawab. Kadangkala jika ada pelanggaran yang dilakukan murid (yang sebenarnya bisa dipahami bahwa dibalik itu ada penyebab yang masuk akal) menjadi tidak dapat ditolerir karena keinginan untuk bersikap tegas dan tidak pandang bulu, sehingga keputusan yang dibuat dirasa kurang bijak. Misalnya ada seorang murid kelas XII bernama B yang sudah dinyatakan lulus di universitas pada jurusan seni yang diminatinya, namun saat ujian sekolah mata pelajaran matematika dia ketahuan mencontek, dengan alasan dia tidak mampu di pelajaran ini, dan akhirnya dia terancam tidak lulus ujian sekolah. Jika guru langsung memutuskan murid B tidak lulus dengan alasan keadilan maka harapannya untuk kuliah di universitas menjadi kandas, padahal pelanggarannya bukanlah pelanggaran berat yang menjurus pada tindak kriminal. Memang seorang guru harus menegakkan keadilan, namun jika berlandaskan pada prinsip rasa peduli, guru dapat menghadirkan solusi alternatif yang tetap menjunjung keadilan namun juga tidak menafikkan rasa kepedulian, yaitu murid B diharuskan mengulang ujiannya dengan menggunakan soal ujian susulan, dan jika setelah diberi kesempatan murid B masih mencontek maka ia harus menanggung konsekuensinya.
Sebagai seorang guru saya menyadari bahwa dalam menentukan kegiatan pembelajaran tidak semata-mata berdasarkan keinginan atau ‘selera’ saya, namun juga harus mempertimbangkan kebutuhan dan potensi murid agar mereka dapat belajar sesuai dengan jati dirinya. Untuk itulah pada saat awal tahun ajaran baru saya berupaya mengumpulkan data-data mengenai pengetahuan awal dan gaya belajar murid, sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk merencanakan kegiatan pembelajaran. Ini karena apa yang kita putuskan saat ini sedikit banyak akan berpengaruh pada masa depan murid, yaitu berpengaruh pada pemahaman, karakter, dan pengambilan keputusan yang mereka lakukan di masa yang akan datang.
Hal yang dapat saya simpulkan setelah mempelajari modul ini adalah bahwa pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin adalah suatu tanggung jawab dan tantangan tersendiri, maka dari itu diperlukan kematangan sikap dan keterampilan dalam pengambilan keputusan, karena tiap keputusan yang diambil akan mempengaruhi iklim dan budaya sekolah yang akhirnya berpengaruh pada kualitas murid-murid di sekolah. Oleh karena itu seorang pemimpin pembelajaran dalam proses pengambilan keputusan haruslah bercermin kembali kepada filosofi dasar pendidikan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Seorang pemimpin pembelajaran harus benar-benar memahami nilai dan perannya, memahami visi dan misi sekolah serta nilai-nilai kebajikan yang terkandung di dalamnya, karena yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang utama adalah bahwa keputusan itu selain mesti berpihak pada murid juga harus berlandaskan nilai-nilai kebajikan. Untuk itu seorang pemimpin pembelajaran mesti menebalkan kemampuan sosial-emosionalnya dan kemampuan coaching-nya, sehingga dengan kesadaran penuh akan diri dan juga orang-orang di sekitarnya, ia dapat membantu orang-orang di sekitarnya dalam menyelesaikan masalah serta mampu membuat keputusan yang bijak.
Dalam modul ini saya baru menyadari bahwa permasalahan yang dihadapi oleh seorang pemimpin dalam menentukan sebuah keputusan bukan hanya mengenai hal yang benar melawan hal yang salah, namun juga ada situasi dimana terjadi benturan antara dua nilai yang sama-sama benar, yang disebut dilema etika. Ketika dihadapkan pada dilema etika maka seorang pemimpin pasti akan sulit untuk membuat keputusan dengan serta merta, melainkan perlu pertimbangan dan langkah-langkah yang tepat. Tetapi juga tidak berarti bahwa semua keputusan yang sulit merupakan dilema etika, karena ada juga permasalahan yang cukup menantang namun ternyata hanyalah ‘bujukan moral’ dimana ada benturan nilai yang benar lawan nilai yang salah, misalnya pada kasus berikut: “Seorang anak tidak naik kelas karena memang tidak memenuhi syarat kenaikan kelas yaitu alpa 20 hari, padahal sudah beberapa kali dipanggil dan diberi surat peringatan, setelah diselidiki ternyata alasan tidak hadir karena sang anak malas sekolah. Kemudian orang tuanya yang wartawan mengancam akan menjatuhkan nama baik sekolah dengan membuat pemberitaan di surat kabar”. Hal tersebut menjadi sulit bagi seorang pemimpin yang memiliki prinsip bahwa penting untuk menjaga anggapan orang lain agar selalu positif kepada kita, namun sebenarnya dalam hal ini tidak ada nilai yang dilanggar dari keputusan tidak menaikkan seorang anak karena sudah sesuai dengan aturan yang ada.
Ketika berhadapan dengan dilema etika, ada empat paradigma yang muncul, yaitu paradigma individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Misalnya seorang kepala sekolah dihadapkan pada situasi apakah ia akan mengikuti pelatihan kompetensi kepala sekolah ke luar kota ataukah tetap di sekolah untuk mengatasi banyaknya permasalahan murid dan guru di sekolah, berarti kepala sekolah tersebut tengah menghadapi dilema individu lawan kelompok.
Dalam pengambilan keputusan umumnya ada tiga prinsip yang digunakan, yaitu berbasis hasil akhir (ends-based thingking), berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berbasis rasa peduli (care-based thingking). Seorang pemimpin yang berpikir bahwa ia harus membuat keputusan yang dapat membahagiakan orang banyak maka ia telah menggunakan prinsip berbasis hasil akhir. Seorang pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diyakininya maka ia cenderung memutuskan berdasarkan peraturan. Sedangkan pemimpin yang memiliki empati yang tinggi atau ia dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kepeduliannya maka ia akan memutuskan menggunakan prinsip berbasis rasa peduli. Pada dasarnya tidak ada prinsip yang paling benar bagi seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan, namun sekali lagi yang perlu menjadi pertimbangan sebagai pemimpin pembelajaran adalah bahwa keputusan tersebut hendaknya berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab. Selain itu juga hendaknya perlu dipertimbangkan efektivitas dari pengambilan keputusan tersebut.
Idealnya terdapat sembilan langkah atau tahapan yang dapat digunakan untuk pengambilan dan pengujian keputusan:
1. Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam
situasi ini
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasi ini
4. Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji
publikasi, uji
panutan/idola)
5. Pengujian paradigma benar lawan benar
6. Melakukan prinsip resolusi (berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, berbasis rasa
peduli)
7. Investigasi opsi trilema (mencari
opsi alternatif di luar dari dua pilihan yang sudah ada)
8. Buat keputusan
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Mempelajari mengenai konsep pengambilan keputusan ini membuat
saya menjadi lebih sadar bahwa setiap waktu sebagai pemimpin pembelajaran saya
dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan. Oleh karena itu saya perlu terus
meningkatkan kompetensi sosial emosional dengan melatih diri, menebalkan
intuisi, serta menerapkan langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan
agar saya mampu menghasilkan keputusan yang efektif. Melalui modul ini saya
diberikan pencerahan bahwa kita jangan hanya berpatokan pada dua pilihan dalam
menentukan keputusan, melainkan kita dapat mengeksplorasi segala potensi yang
ada agar dapat menghadirkan solusi alternatif yang kreatif dan dapat
menguntungkan semua pihak.
Sebagai individu, mempelajari modul ini penting bagi saya
untuk menjadi pribadi yang lebih optimis, karena selama ini saya termasuk orang
yang mudah bingung dalam mengambil keputusan khususnya jika berkaitan dengan orang
lain, dan di modul ini diajarkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pengambilan
dan pengujian keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran saya mendapatkan
pemahaman yang sangat penting dari modul ini bahwa apapun prinsip yang
digunakan dan apapun keputusan yang diambil maka keputusan tersebut haruslah
berpihak pada murid, berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung
jawab, dengan demikian peran sebagai pemimpin pembelajaran dapat dijalankan dengan
baik.
REFERENSI: Nurcahyani, Andri & Diah Samsiati Rajasa. (2022). Pendidikan Guru Penggerak: Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.