Refleksi dan Kesimpulan Mengenai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara serta Penerapannya
Oleh: Rizki Rahayu
Saya seorang guru SMA, saya telah
menjadi guru sejak tahun 2009. Dulu saya berpikir bahwa menjadi guru SD dan SMP
lebih sulit dari pada guru SMA karena harus membentuk dasar-dasar pengetahuan
dan karakter anak. Ternyata dalam kenyataannya menghadapi anak SMA juga tidak
mudah. Banyak permasalahan yang saya hadapi.
Saya yakin bahwa pembelajaran di
kelas akan berhasil dan menyenangkan bagi siswa jika menggunakan metode yang
bervariasi, terutama banyak menggunakan metode permainan. Namun menerapkan
metode yang bervariasi apalagi permainan merupakan suatu tantangan yang tinggi
bagi saya karena menuntut kreativitas dan juga berbenturan dengan pemikiran bahwa
tidak semua materi bisa menggunakan metode yang ‘wow’ tersebut. Menurut saya metode
klasik yaitu ceramah tetap sangat diperlukan, apalagi menyangkut materi baru
yang belum pernah siswa pelajari sebelumnya di SD dan SMP dan pada
materi-materi yang dinilai sulit. Mungkin inilah cara pandang yang membuat saya
tetap dalam ‘zona nyaman’.
Belum lagi dihadapkan pada
masalah yang paling sulit saya tangani, yaitu dalam hal membentuk karakter
siswa. Siswa SMA berada pada fase perubahan dari anak-anak menuju dewasa, fase
mencari jati diri, lebih berpikiran kritis karena daya nalar semakin meningkat,
sehingga terkadang memunculkan jiwa perlawanan ketika diberi perintah, masukan
dan nasihat dalam rangka membentuk karakter mereka. Jika dikaitkan dengan dasar
pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu ‘kodrat alam’ masalah yang sering saya
temui adalah karakter dari sebagian siswa yang sudah tidak sesuai lagi dengan konteks
sosial-budaya lokal yang semestinya menjunjung tinggi sopan santun dan
menghargai orang lain. Inilah misteri terbesar bagi saya yang menjadi ‘PR’
untuk ditemukan metode atau strategi apa yang tepat di dalam mengarahkan siswa
agar mereka kembali pada jati diri bangsanya, agar pendidikan yang dijalankan
tidak terasa sia-sia, agar dapat mewujudkan anak-anak yang memiliki budi
pekerti luhur seperti yang menjadi dasar filosofi Ki Hadjar Dewantara.
Berkaitan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut, dapat saya simpulkan sebagai berikut:
1. pendidikan itu tuntunan, artinya menuntun kodrat
anak bukan merubah kodrat anak, ibaratnya petani yang menanam jagung tidak bisa
mengubah jagung menjadi kedelai, melainkan hanya bisa menyiram, memupuk dan
merawat agar jagung itu tumbuh subur dan baik kualitasnya;
2. bahwa kodrat anak adalah merdeka dan bermain,
maka pendidikan harus memerdekakan manusia lahir dan batin;
3. pendidikan harus berpihak pada anak, artinya kegiatan
belajar haruslah menyesuaikan dengan gaya belajar setiap anak dan juga potensi
yang mereka miliki;
4. anak bukanlah ‘kertas kosong’, mereka telah ‘dibekali’
potensi/kemampuan sejak lahir, maka dari itu ibaratnya kertas yang sudah ada
tulisannya namun samar tugas guru adalah menebalkan kodrat atau laku anak yang
bernilai positif serta membuat laku yang negatif tetap samar sehingga tidak
akan muncul;
5. pendidikan sejatinya menumbuhkan budi pekerti
yang luhur pada diri anak sehingga menciptakan kebijaksanaan, dengan demikian
terwujudlah keselamatan dan kebahagiaan pada diri anak.
Setelah saya mempelajari
Dasar-Dasar Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut saya menjadi semakin sadar
bahwa masih banyak yang perlu ditingkatkan dari diri saya sebagai guru, bahkan
sepertinya guru harus menjadi manusia ‘super’. Apa yang dipelajari memotivasi
saya untuk menjadi lebih baik, namun di sisi lain ini menjadi sebuah beban yang
mana saya merasa guru itu harusnya memiliki banyak kemampuan yang ‘agak jauh
panggang dari api’ jika melihat karakter yang ada dalam diri saya, karena saya
merasa memiliki kekurangan dari segi komunikasi dan berinteraksi dengan orang
lain. Tapi saya masih merasa optimis karena di dalam PGP ini pastinya akan
memberikan ilmu dan pengalaman yang dapat membuat saya mendobrak kebiasaan lama.
Setidaknya sebagai permulaan saya
akan berupaya konsisten untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi yang
mengakomodir semua gaya belajar siswa, di situ saya akan menggunakan audio yang
jelas, visualisasi yang menarik (dengan video, animasi dan gambar), kegiatan
belajar yang melibatkan fisik dan perasaan, serta memanfaatkan bahan belajar
yang ada di lingkungan sekitar. Karena saya mengampu mata pelajaran Geografi,
maka kegiatannya akan seperti memutar audio video mengenai pembuatan peta dari
citra satelit daerah setempat sebagai stimulus, namun sebelumnya memastikan
agar siswa tertib dan tidak ribut dengan membuat kontrak belajar. Kemudian
mengarahkan dan membimbing siswa untuk mempraktekkan cara membuat peta tersebut
secara bertahap dan sabar, sehingga siswa paham akan bentuk dan keadaan
wilayahnya sendiri.
Sumber: Simon Petrus Rafael (2022). Modul 1.1 Filosofi
Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Guru Penggerak
No comments:
Post a Comment