Sebelum mempelajari
modul ini, saya berpikir bahwa tiap murid bertanggung jawab untuk dapat
mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik dan harus mengenyampingkan
hambatan-hambatan yang dimilikinya, sehingga saya lebih bersikap menuntut
kepada murid untuk fokus dalam belajar tanpa menggali lebih jauh mengenai
kondisi sosial-emosional mereka. Namun, setelah
mempelajari modul ini, ternyata gurulah sosok pertama yang harus aktif sebagai
pemimpin pembelajaran untuk merencanakan kegiatan pembelajaran sosial-emosional
berbasis ‘mindfulness’ atau kesadaran
penuh. Karena pada dasarnya murid yang terlatih untuk memberikan perhatian
penuh dalam setiap kegiatan pembelajaran maka secara akademik kemampuannya akan
meningkat. Murid yang memiliki kesadaran penuh, yang mencurahkan perhatian dan
rasa keingintahuannya secara positif dalam kegiatan pembelajaran maka murid
tersebut telah memiliki kesadaran diri sekaligus dapat mengelola dirinya,
memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain, sehingga ia mampu
berinteraksi secara positif dengan orang lain, dan mampu membuat
keputusan-keputusan yang dilandasi oleh nilai kebaikan dan penghargaan terhadap
sesama.
Dengan melaksanakan
Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) maka diharapkan akan terwujud
kesejahteraan psikologis (well being)
bagi seluruh individu yang ada di sekolah. PSE yang berhasil diterapkan dengan
baik akan memunculkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE), yaitu kesadaran
diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pembuatan
keputusan yang bertanggung jawab. Untuk itu, sebelum melatihkan dan menananmkan
PSE pada murid, guru perlu terlebih dahulu melatih dirinya untuk memunculkan 5
KSE dalam dirinya juga rekan sejawatnya (Pendidik dan Tenaga Kependidikan).
Dengan melaksanakan
PSE maka secara tidak langsung guru juga melaksanakan pembelajaran yang
berdiferensiasi. Hal ini berlaku ketika menerapkan teknik-teknik mindfulness dan langkah-langkah untuk
melatih 5 KSE dengan menciptakan suasana dan proses yang disesuaikan dengan
kebutuhan murid. Penerapan PSE juga berarti mewujudkan budaya positif dan salah
satu upaya mewujudkan visi guru terkait dengan Profil Pelajar Pancasila. Guru
mengimplementasikan nilai dan perannya melalui PSE, sehingga tujuan pendidikan
berlandaskan filosofi Ki Hadjar Dewantara dapat tercapai, yaitu guru menuntun
kodrat anak untuk mencapai kebahagian yang setinggi-tingginya.
Oleh karena itu, berkaitan dengan kebutuhan belajar dan
lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah
agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
1) untuk menerapkan PSE perlu kolaborasi dengan seluruh
komponen yang ada di sekolah, berlandaskan kerangka CASEL (Colaborative for Academic Social Emotional Learning);
2) ada 4 indikator penerapan PSE yaitu pengajaran eksplisit,
integrasi dengan praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, pengembangan
iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE pada Pendidik dan Tenaga
Kependidikan;
3) PSE berlandaskan mindfulness
atau kesadaran penuh, oleh karena itu guru perlu terus berlatih untuk
mengimplementasikan teknik-teknik kesadaran penuh agar dapat membantu murid untuk
menghadirkan dirinya secara penuh dalam tiap kegiatan pembelajaran.
Berkaitan dengan hal di atas, perubahan yang akan saya
terapkan di kelas dan di sekolah adalah mengimplementasikan PSE dengan
mengintegrasikannya pada praktik mengajar mata pelajaran Geografi yang saya
ampu, menyampaikan ide dan mengajak kepada rekan sejawat untuk menerapkan PSE
secara eksplisit pada kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru, serta menyampaikan
pemahaman yang saya peroleh kepada rekan sejawat secara daring (menyebarkan
link video berbagi pemahaman PSE) ataupun dalam forum diskusi.
REFERENSI:
Caesilia Ika W., dkk (2022). Pendidikan Guru Penggerak Modul 2.2. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
No comments:
Post a Comment